Subulussalam —SBN.News.com Upaya Membangun Disiplin Sekolah Dimulai dari Rumah: SMAN 1 Rundeng Ajak Orang Tua Terlibat Aktif
Ruang pertemuan di SMAN 1 Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh, tampak penuh pada hari itu. Para orang tua siswa hadir memenuhi undangan yang dilayangkan pihak sekolah. Bukan sekadar silaturahmi, pertemuan yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Sarinah, S.Pd., ini menjadi ruang penting untuk membangun kembali jembatan komunikasi antara rumah dan sekolah—sebuah ikhtiar yang semakin relevan di tengah kompleksitas tantangan pendidikan saat ini.
Kegiatan yang bertajuk Temu Ramah dan Sosialisasi Tata Tertib Sekolah itu dirancang bukan hanya sebagai formalitas tahunan, melainkan sebagai bagian dari strategi sistemik untuk meningkatkan kesadaran kolektif, terutama peran orang tua dalam menegakkan disiplin dan mendampingi proses pendidikan anak-anak mereka. Sarinah menjelaskan, tanpa keterlibatan orang tua, semua aturan dan nilai yang ditanamkan di sekolah akan sulit mengakar.
Dalam pemaparannya, Sarinah menekankan pentingnya keselarasan nilai antara rumah dan sekolah, terutama dalam menegakkan tata tertib. “Kami ingin memastikan bahwa apa yang kami lakukan di sekolah tidak menjadi kontradiktif dengan apa yang terjadi di rumah. Disiplin itu tidak bisa hanya ditanamkan di kelas. Ia harus menjadi bagian dari kehidupan anak, dan itu dimulai dari rumah,” ujarnya.
Pertemuan ini juga menjadi ruang dialog dua arah. Pihak sekolah menyampaikan berbagai poin tata tertib yang telah dirumuskan, mulai dari kedisiplinan waktu, etika berbusana, penggunaan gawai, hingga sikap dalam berinteraksi sesama siswa maupun guru. Sebaliknya, orang tua diberi ruang menyampaikan harapan dan pandangan mereka terhadap sistem pendidikan dan pendekatan kedisiplinan yang diterapkan sekolah.
Beberapa orang tua menyambut positif langkah ini. Mereka mengakui bahwa tanpa komunikasi yang terbuka dan sistematis seperti ini, sering kali informasi dari sekolah hanya sampai secara sepihak melalui anak. Dalam banyak kasus, orang tua tidak memahami duduk persoalan ketika anak mereka melanggar aturan, karena minimnya pengetahuan tentang tata tertib yang berlaku.
Sarinah menyampaikan bahwa tujuan utama dari sosialisasi ini bukan semata-mata untuk menghukum pelanggaran, tetapi untuk membangun kesadaran bersama. Ia menambahkan bahwa pihak sekolah ingin menumbuhkan budaya disiplin yang tidak represif, tetapi edukatif. “Kami tidak ingin anak-anak takut terhadap aturan. Kami ingin mereka memahami alasan di balik aturan itu, dan menginternalisasinya sebagai nilai hidup,” tegasnya.
Melalui kegiatan seperti ini, SMAN 1 Rundeng ingin memperkuat kolaborasi tripusat pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sarinah berharap, ke depan kegiatan serupa tidak hanya menjadi rutinitas, melainkan sebuah gerakan kolektif membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan berkualitas.
Temu ramah ini juga menjadi momen refleksi bersama bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru di ruang kelas. Peran orang tua sangatlah krusial dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Ketika sekolah dan rumah berjalan beriringan dalam satu visi, potensi anak-anak tidak hanya akan berkembang secara akademik, tetapi juga secara sosial dan moral.
Dari SMAN 1 Rundeng, pesan ini mengalir deras: pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Ia adalah kerja kolaboratif yang hanya bisa berhasil bila kepercayaan dan komunikasi antara semua pihak dibangun secara jujur dan konsisten. Dalam dunia yang terus berubah, komitmen semacam inilah yang membuat pendidikan tetap berpijak pada nilai, dan tidak kehilangan arah.
Redaksi: [Syahbudin Padank]






















