Dana Ketahanan Pangan Kampong Pasar Panjang Diduga Dikorupsi, 40 Persen Raib tanpa Jejak

SYAHBUDDIN PJ

- Redaksi

Kamis, 24 Juli 2025 - 13:05 WIB

50302 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Subulussalam | SBN,News.com ~ Sebanyak empat puluh persen dana ketahanan pangan di Kampong Pasar Panjang, Kecamatan Simpang Kiri, diduga raib tanpa kejelasan. Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut semestinya digunakan untuk memperkuat sektor pangan di tingkat kampung, namun justru diduga dipakai untuk membayar honor perangkat desa dan bahkan disinyalir mengalir ke tangan pribadi yang tidak berwenang.

Mustaqim, penjabat kepala kampong sebelumnya, membenarkan bahwa tahap pertama dana ketahanan pangan sudah cair sebesar 40 persen. Pernyataan itu diperkuat oleh Nasaruddin, yang kala itu menjabat sebagai bendahara kampong. Dalam pengakuannya, Nasaruddin menyebutkan bahwa sebagian dana itu digunakan membayar honor perangkat kampong, dan sisanya—sekitar Rp21 juta—telah diserahkan kepada Yahyakan, yang kini menjabat sebagai Pj. Kepala Kampong Pasar Panjang.

Namun, pengakuan Nasaruddin tidak berhenti di situ. Ia mengungkapkan bahwa sekitar Rp10 juta dari dana tersebut dipinjamkan oleh Mustaqim kepada Randi, yang saat itu bahkan belum resmi menjabat sebagai Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dugaan aliran dana ini semakin menambah daftar kejanggalan dalam pengelolaan anggaran desa yang seharusnya menjadi tulang punggung ketahanan pangan masyarakat.

Randi, yang kini resmi menjabat sebagai Ketua BUMDes Kampong Pasar Panjang, membantah keras tudingan tersebut. Ia menyatakan tidak pernah meminjam dana ketahanan pangan desa dalam kapasitasnya sebagai Ketua BUMDes. Pinjaman yang dimaksud, kata Randi, murni urusan pribadi antara dirinya dan Mustaqim. “Saya pinjam uang secara pribadi, bukan dana desa. Saya gunakan untuk menutupi kekurangan uang membeli tiga ekor lembu. Saya tegaskan: saya tidak pernah meminjam uang ketahanan pangan kampong,” ujarnya.

Meski Randi telah menepis tudingan itu, persoalan semakin kabur ketika menyangkut keberadaan dana yang tersisa. Randi menyebut hingga saat ini dana ketahanan pangan itu belum juga ditransfer oleh Yahyakan, Pj. Kepala Kampong yang sekarang, ke rekening BUMDes. Padahal, sebagian dana diakui masih berada dalam rekening kampong. Namun, alasan keterlambatan atau penahanan dana itu tidak pernah dijelaskan secara resmi. Permintaan klarifikasi kepada Yahyakan pun berulang kali diabaikan. Ketika ditanya soal penyaluran dana tersebut, baik Yahyakan maupun seorang perangkat kampong yang akrab dipanggil Upik menolak memberikan keterangan. Keduanya memilih bungkam dan enggan berkomentar.

Situasi ini memunculkan spekulasi baru: ada apa dengan dana ketahanan pangan Kampong Pasar Panjang? Uang negara yang semestinya digunakan untuk memperkuat sektor pangan lokal, justru hilang arah tanpa akuntabilitas yang jelas. Ketiadaan laporan penggunaan dana, tidak adanya transparansi dalam proses penyaluran, serta minimnya pengawasan dari pihak kecamatan dan kota, memperlihatkan betapa lemahnya tata kelola anggaran di tingkat kampung.

Kampong Pasar Panjang kini menjadi contoh nyata kegagalan implementasi Dana Desa jika tidak dibarengi dengan pengawasan ketat dan pelibatan aktif masyarakat. Uang rakyat yang dialirkan dari pusat untuk membangun ketahanan pangan di desa bisa saja melayang tanpa bekas, hanya karena permainan segelintir orang di lingkaran kekuasaan kampung. Dugaan penyalahgunaan dana ini tidak bisa lagi dianggap sebagai isu internal kampong. Ini adalah cerminan dari persoalan struktural yang lebih dalam, soal pengawasan anggaran publik yang longgar, budaya bungkam aparat desa, dan absennya rasa tanggung jawab terhadap amanat negara.

Jika dugaan penyelewengan ini dibiarkan berlarut, bukan hanya pembangunan pangan yang terganggu, tetapi juga kepercayaan publik terhadap program Dana Desa secara keseluruhan. Pemerintah daerah, aparat hukum, hingga inspektorat wilayah seharusnya tidak menunggu laporan formal untuk turun tangan. Sudah saatnya audit menyeluruh dilakukan. Dana ketahanan pangan bukan untuk membayar honor, apalagi dipinjamkan untuk membeli lembu. Ini adalah hak rakyat yang tidak boleh dirampas oleh siapa pun, dengan dalih apa pun.{*}

[Redaksi]

Berita Terkait

Lapas Binjai Berbagi Lele Gratis, Wujud Nyata Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman Belum Buka Suara, Keluarga Korban Pencurian yang Mengaku Jadi Tersangka Bentangkan Spanduk Minta Digelar RDP
Miris! Ternyata Kapolrestabes Medan Sering Bohongi Keluarga Korban Pencurian Yang Jadi Tersangka Usai Nangkap Maling ?
Lapas Binjai Gelar Razia Gabungan, Wujud Komitmen Ciptakan Lingkungan Pemasyarakatan yang Aman dan Tertib
Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar Walillahilhamd, Ferdy Sanjaya Sembiring Tebar Keberkahan Idul Adha dengan Menyembelih 19 Sapi dan 2 Kambing untuk Masyarakat
Polda Sumut Resmi Pecat Kompol DK Melalui Sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri
Kalapas Binjai Perkuat Sinergitas dengan Polres Binjai, Bahas Pengamanan hingga Latihan Menembak Bersama
Dukung Kemandirian Warga Binaan, Ketua TP PKK Kabupaten Batu Bara Serahkan Alat Tenun di Lapas Labuhan Ruku

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 03:11 WIB

Seru!! Halal Bihalal PDBN Satukan Tokoh Lintas Generasi di Ciawi, Bogor

Jumat, 10 April 2026 - 17:51 WIB

Ketua Pemuda Tangsel Bersatu Aprilyandi, Serukan Anti Anarkis Pelajar dan Gen Z Jaga Kebersamaan

Selasa, 7 April 2026 - 16:39 WIB

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (PW GPA) DKI Jakarta

Kamis, 2 April 2026 - 23:03 WIB

ALL ASTAR: Jaga Kamtibmas yang Aman, Kondusif dan Damai

Selasa, 31 Maret 2026 - 13:58 WIB

Partai Cinta Negeri Mantap Usung Samsuri, S.Pd.I, M.A Menuju Pilpres 2029

Jumat, 27 Februari 2026 - 18:02 WIB

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo: Perlu Adanya Sikap Jelas Dari Pemerintah untuk Melawan Perdagangan Orang

Jumat, 27 Februari 2026 - 17:29 WIB

Satu Tahun Pemerintahan Labusel, HIMLAB Raya Jakarta Siap Kawal Pembangunan yang Transparan dan Berkelanjutan

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:50 WIB

Samsuri, S.Pd.I., M.A. Menjadi Simbol Perjuangan Politik PCN Menuju Pilpres 2029

Berita Terbaru